Mahasiswa Dan Politik Mahasiswa



Kawan kita tidak sedang main main, kawan kita tidak sekdar masuk keluar kelas akan tetapi kita sedang bertarung untuk memutus rantai kebodohan, untuk memutus rantai penindasan maka pegang teguh idealisme itu janganlah kau jual, karena idelaisme adalah harta termahalmu.


Alwi ALu

Mahasiwa merupaka elemen penting dalam setiap perubahan sosial, tak ada sejarah perubahan satupun tanpa keikut sertaan mahasiswa atau kaum muda (lutfi j. Kurniawan dalam acara diskusi & nontonfilem  “kiri hijau kanan merah”)

secara moril mahasiswa memang memiliki beban moril yang besar untuk merespon berbagai ketidak adilan dalam penegakan hukum, pelanggaran ham dan berbagai ketimpangan ketimpangan lainya juga berperan aktif dalam menanggapi realitas tersebut dengan cara mengorganisir ataupun melakukan upaya untuk memengaruhi opini umum sebagaimana yang perna di lakukan oleh tokoh yang banyak di jadikan panutan oleh para mahasiswa yang benar benar bergetar ketika melihat ketidak adilan soe hook gie.

Secara tugas dan fungsi seorang mahasiswa sudah tergambar jelas dalam tri darma perguruan tinggi ataupun sumpah mahasiswa, seorang mahasiswa (menurut saya) bisa di katakan sebagai mahasiswa katika dia benar benar menjalankan tri darma perguruan tinggi dan menjaga betul sumpahnya, dan mahasiswa yang menggembar gembor mengenai keadilan,  kebebasan dan seringkkali hanya mengucapkan sumpahnya (pada saat demonstrasi, pada osjur, osfak) namun mempunyai kepentingan opurtunis bukanlah mahasiswa namun politisi siswa (politisi yang mempunyai kartu mahasiswa)

Jika dilihat dari segi historis (lihat soe hook gie “zaman peralihan”) dimana dalam melakukan perubahan. pergerakan yang dilakukan oleh kawan kawan mahasiswa era itu (1966) selalu menemui titik sulit baik dari kalangan pemerintah (orla “oede lama”) juga dari kalangan mahasiwa itu sendiri terutama mereka yang berteriak atas nama keadilan namun opurtunis dalam berfikir. Berfikir atas nama kuat dan lemah bukan atas nama baik dan buruk. seperti yang di lakukan oleh kawan kawan yang mengambil posisi “moral force” yang aksi karna atas tuntutan moral bukan atas kepentingan kepentingan individual (mengincar jabatan, mencari beasiswa dll) sebagai contoh semisal pada salah satu organisasi yang cukup memiliki pengaruh pada saat itu yaitu KAMI “Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia” dalam menentukan rencana atau arah pergerakan dan tujuan dari organisasi ini sendiri terdapat perbedaan pedapat ada yang mengatakan (kelopok moral force “kbanyakan mahasiswa yang tidak berada pada jajaran pengurusan ataupun kepala bidang) bahwa adanya KAMI karna dua faktor yang pertama di karnakan PPMI tidak dapat lagi menyalurkan pendapat dan saran mahasiswa mahasiswa di bawah, juga yang kedua ialah kami merupakan katalisator dari pihak pihak yang lemah.

Untuk itu tanpa melupakan bahwa kita adalah mahasiwa pola gerakan yang harus di bangun adlah moral force dan setelah tuntutan telah selasai atau masalah telah selesai kita harus kembali kekampus dan melaksanakan tugas lain dari mahasiswa yaitu belajar, belajar dan belajar. Hal ini sebagaimana yang di ungkapkan arif budiman kakak dari soe hook gie bahwa seorang intelektual itu bagai seorang petapa yang sesekali harus meninggalkan pertapaannya untuk menyelesaikan masalah sosial dan ketika masalah telah selesai dia kan kembali ke pertapaannya artinya apa seorang mahasiswa harus terlibat aktif dalam perubahan karna kita adalah agen perubahan tanpa melupakan kita adalah seorang akdemis yang memerlukan banyak pengetahuan dan menambah landasan lansan metodologis. 

Pendapat ini berbeda dengan pendapat yang di kemukaan oleh para petinggi di KAMI yang dalam pergerakannya selalu memperhitungkan kuat dan lemah mereka berpendapat bahwa arah perjuangan KAMI harus bersifat politis dengan alasan bahwa jikalau telah terjadi perubahan dan kita kembali ke kampus dan tidak lagi terlibat dengan dunia politik atau tidak ikut andil dalam kekuasaan maka akan sia sia aksi yang kita lakukan, karna setiap kebijakan itu di tentukan melalui jalur poltik. 

Naiknya harga bensin naiknya harga sembako itu semua di tentukan melalui jalur politik bayangkan kalau kita tidak ada pada saat itu ya akan mulus mulus saja (ujar para aktor yang berada di pengurusan kami) lihat begitu indahnya mereka bersselimut di balik retoroka, namun perlu di ingiat bahwa sejarah mencatat bahwa para tokh tokoh tersebut telah menghianati sumpah mereka disinilah terjadi dekadensi moral banyak mahasiswa (mahasiswa opurtunis) yang berteriak anti pemerintahan sekarang telah berselingkuh dengan pemerintah dan ini telah menimbulkan pesimisme di kalangan mahasiswa mahasiswa yang dengan jujur tulus dan iklas membela kaum mustadafin karna melihat mereka yang begitu semnagat menggulingkan rezim yang mulai menunjukan kediktatorannya kini berselingkuh dengan rezim yang baru. Ini di kenal dengan massa bulan madu.

Kemudia di era kekinian apakah masih ada mahasiswa yang opurtunistik, masih ada contoh aktivis atau angkatan 98 semisal Fahri Hamza Dan Adian Napitupulu (masih banyak lagi namun karna 2 orang ini sering muncul di media jadi patut di jadikan contoh biar mudah di kenal) meraka ini merupaka tokoh tokoh yang berperan aktif dalam penggulingan rezim otoriter ORBA kini telah lupa dan menikmati sajian kue berhamburan madu dan bir yang memabukan hingga membutakan matahati mereka oleh pemerintahan yang baru ini, padahal siapa yang tidak tau dengan perjuangan adian napitupulu yang menjadi saksi hidup pelanggaran HAM yang di lakukan REZIM ORBA kini semua tinggallah catatan sejarah indah bila di baca. masa di mana muncul pahlawan dan penjahat namun kini pahlawan itu lupa kalau dia sudah keluar dari rumahnya sendiri (idealismenya telah hilang) mungkin benar apa yang di katak soe hook gie bahwa sekarang tinggal dua pilihan menjadi sosok idealis sampai batas batas maksimal ataukan menjadi sosok apatis. 

Ini memang pilihan tapi ada hal menarika yang di ucapakan oleh lutfi j. Kurniawan dalam diskusi dan nonto film kiri hijau kanan merah bahwa kita manusia mamiliki pilihan mau jadi makhluk biologis ataukan makhluk sejarah jika kita ingin menjadi makhluk biologis ya sudah tinggal, makan ,tidur bangun, tidur lagi, sekolah dan dapat titel sampai panjangnya 2 meter kemudia mati namun kalau kita ingin jadi makhluk sejarah maka lakukanlah atau bergeraklah ketika kawanmu di tindas ketika negaramu di jatuhkan oelh segelintir orang ke dalam lubang hitam, marahlah marahlah ketika melihat ketidak adilan kalau kata mansoer fakhih yang mengutip dari gramsci bahwa anda mau jadi apa intelektual tradionalkah atau intelektual organik.

Untuk itu marilah kita bangun kesadarn kita bukan kesadaran naif dan magis tapi kesadaran kritis kesadaran untk merubah ketimpangan ketimpangan sosial merubah sistem yang tidak adil menuju dunia baru dunia tnpa penindasan tanpa teriakan lapar lapar aku lapar oelh rakyat, buruh dan petani lepaskan semua kepentingan individual kita mari kita nyalakan lilin dan terangkan dunia yang mulai gelap jangan padam jangan padam bangkit dan bergeraklah gerakan mahasiswa inagat tujuan kita terciptanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan islam (pembebasan) atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur (dunia baru) yang diridhohi allah swt. YAKUSA (Yakin Usaha Sampai)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Keterlibatan Masyarakat Adat dalam Perlindungan & Pengelolaan Lingkungan Hidup Prespektif Ekopopulisme.

Gerakan mahasiswa