Kecalakaan Dalam Berfikir: Misorientasi Peran Dan Fungsi Mahasiswa UIN Malang
Mahasiswa yang takut ataupun tidak
mau memperjuangkan hak hak mahasiswa atau hak hak asasinya sebagai seorang
manusia dan mahasiswa, lebih baik tidak usah kulia karena ia sedang memperpanjang
rantai kebodohan, dan rantai penindasan. Dia adalah mahasiswa karbitan, dialah
orang yang sedang mengalami kecelakaan dalam berfikir bahkan sesat pikir.
Mungkin
akan terkesan lawas bahkan kurang menarik bahkan terkesan mengulang ulang suatu
pembahasan, jika pembahasan itu, terkait peran dan fugsi mahasiswa. Hal ini dikarenakan selain
merupakan pembahasan yang sudah menjadi bahan diskursus yang di mulai sejak
lama, juga dikarenakan pembahasan ini sudah seringkali di bahas dalam
mimbar-mimbar akademik. Bahkan jika di telisik telah banyak buku yang membahas
hal tersebut telah diterbitkan dalam berbagai pandangan dan menggunakan
berbagai pisau analisis. Semisal di dalam berbagai karyanya Soe Hook Gie
seorang mahasiswa sastra UI yang dengan gagasannya yang begitu antiminstream
(berbeda dengan mayoritas mahasiswa sejamannya) ia mendobrak berbagai bentuk
hal yang dalam prespektifnya salah atau tidak sesuai baik dan saat ini
dibukukan dengan judul catatan seorang
demontran, zaman peralihan.
Didalam buku buku tersebut banyak hal terkait kehidupan mahasiswa di bahas dan dikritik oleh Soe Hook Gie, dan yang menjadi pusat perhatiannya adalah terkait Idealisme seorang mahasiswa. Mahasiswa mahasiswa yang dalam pandangannya merupakan seorang agen terdidika yang mempunya kemampuan lebih dalam hal ilmu pengetahuan sejatinya memiliki beban moril yang besar untuk merespon berbagai problem sosial yang terjadi yakni yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun masih juga terdapat mahasiswa yang menjual idealismenya hanya untuk jabatan, uang DLL. Dikarenakan idealismenya ia diasingkan oleh lingkungan sekitarnya, namun seorang Soe Hook Gie tidak mempersoalkan hal itu sebagaimana katanya bahwa “lebih baik diasingkan daripa menyerah dan tunduk pada kemunafikan”.
Didalam buku buku tersebut banyak hal terkait kehidupan mahasiswa di bahas dan dikritik oleh Soe Hook Gie, dan yang menjadi pusat perhatiannya adalah terkait Idealisme seorang mahasiswa. Mahasiswa mahasiswa yang dalam pandangannya merupakan seorang agen terdidika yang mempunya kemampuan lebih dalam hal ilmu pengetahuan sejatinya memiliki beban moril yang besar untuk merespon berbagai problem sosial yang terjadi yakni yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun masih juga terdapat mahasiswa yang menjual idealismenya hanya untuk jabatan, uang DLL. Dikarenakan idealismenya ia diasingkan oleh lingkungan sekitarnya, namun seorang Soe Hook Gie tidak mempersoalkan hal itu sebagaimana katanya bahwa “lebih baik diasingkan daripa menyerah dan tunduk pada kemunafikan”.
Pada
karya yang lain yang membahas terkait dengan peran dan fungsi mahasiswa ialah
buku yang ditulis oleh Hariman Siregar dengan judul gerakan mahasiswa pilra ke lima demokrasi, didalam buku itu Hariman
Siregar mengulas tentang betapa pentingnya gerakan mahasiswa sebagai kekuatan
moril untuk mengontrol pemirintahan/negara agar demokratisasi tetap berjalan
sebagai mana mestinya. Dalam suatu sistem demokrasi terkenal dengan tiga
pilarnya yakni legislatif, eksekutif dan
yudisial yang saling melalkukan
kontroling (check and balance) namun
untuk jalannya sistem yang demokratis tiga institusi itu saja tidak cukup dan
dibutuhakan perangkat tambhan yakni media. Hal yang sama juga terjadi, dalam
praksisnya media yang seharusnya menjadi satu instrumen untuk adanya penyebaran
informasi yang baik malah berubah menjadi satu elemen yang menguntungkan pihak
pihak tertentu, dikarenkan dominasi kapital didalam alam pikirnya.
Oleh
karena itu mahasiswa sebagai seorang intelektual yang memiliki beban moril
meruakan alternatif untuk menjawab problematika tersebut. Dalam hal ini
mahasiswa berposisi sebagai penyambung lidah rakyat. Berbagai buku lainnya yang
membahas peran dan fungsi mahasiswa ialah buku bukunya Eko Prasetyo dan tokoh
tokoh lainnya. Dari berbagai buku-buku tersebut dalam fikiran saya semestinya
hal hal terkait dengan misorientasi peran dan fungsi mahasiswa tidak terjadi lagi
ataupun jika masih terjadi itu sangatlah minim. Namun lagi lagi problem selalu
berdatangan, dan anehnya maslahnya adalah maslah klasik yakni masih adanya
mahasiswa mahasiswa yang hedonis,
pragmatis, apatis, biologis,retoris.[1]
Mahasiswa hedonis adalah mahasiswa yang dari sekian banyak waktunya, dia
habiskan dengan kekgiatan hura-hura kerjanya melakukan hal hal yang senag
senang tok (main ML, main kartu, jalan jalan ke mal, clubbing dan lain lain).
Mereka selalu nongkrong sana sini yang tidak jelas manfaatnya, hanya untuk kesenangan pribadi semata. Sedangkan Mahasiswa pragmatis adalah mereka yang akan melakukan apa saja asalkan ada manfaat untuknya, mereka mereka ini sangat lihai dalam melihat berbagi kesempatan, mereka seperti bunglon yang akan dapat berubah ubah kapan dan dimana saja, yang menjaddi sebuah keanehan adalah mereka mengaminkan dan menyatakan apa yang mereka buat adalah suatu pilihan yang baik. Adapun terdapat bahasiswa yang tak mau tau dengan apapun yang menyangkut dengan masalah masalah keumatan dan kebangsaan, kerja mereka setiap harinya hanya kuliah pulang, kuliah pulang yang seringa disebut dengan mahasiswa Kupu-Kupu mereka inilah kaum yang apatis.
Mereka selalu nongkrong sana sini yang tidak jelas manfaatnya, hanya untuk kesenangan pribadi semata. Sedangkan Mahasiswa pragmatis adalah mereka yang akan melakukan apa saja asalkan ada manfaat untuknya, mereka mereka ini sangat lihai dalam melihat berbagi kesempatan, mereka seperti bunglon yang akan dapat berubah ubah kapan dan dimana saja, yang menjaddi sebuah keanehan adalah mereka mengaminkan dan menyatakan apa yang mereka buat adalah suatu pilihan yang baik. Adapun terdapat bahasiswa yang tak mau tau dengan apapun yang menyangkut dengan masalah masalah keumatan dan kebangsaan, kerja mereka setiap harinya hanya kuliah pulang, kuliah pulang yang seringa disebut dengan mahasiswa Kupu-Kupu mereka inilah kaum yang apatis.
Adapun
kelompok mahasiswa yang tak kalah banyaknya di UIN Malang,yakni mereka yang
aktifitasnya hanya difokuskan hanya untuk persoalan pacaran, dalam hal
aktifitas berfikirnya hanya dialokasikan untuk pacaran tok. Mahasiswa mahasiswa
ini biasanya aktif di organisasi organisasi ekstra maupun intra kampus dan
lembaga lembaga lain yang menurut mereka dapat mendongkrak popularitas mereka,
setidaknya mereka dapat dipanggil kaka oleh adek adek tingkatnya yang nantinya
adek adek itu kan menjadi korban dari kata kata manisnya.
Adapula yang memang serius dan berakhrir status pacaranya dikarenkan akad nikah. Mahasiswa mahasiswa ini seringkali, membicarakan terkait dengan masalah pasangannya baik dari yang lagi sayang sayangnya, marah, sedih, rindu sampai yang sudah kebelet pengen nikah, padahal statusnya masih mahasiswa dan belum lulus kuliah. Di UIN Malang, mahasiswa mahasiswa ini bahkan punya satu tempat yang disakralkan yakni taman seribu janji. Selain golongan golongan mahasiswa yang aneh aneh atau yang telah mengalami kecelakaan dalam berfikir tersebut.
Terdapat satu golongan lagi yang secara omongan sangatlah memukau, bahkan terkesan dialah seorang martir perbuhan. Secera teoritik kemampuannya bisa dikatakan mencapai klasifikasi menengah. Mahasiswa mahasiswa ini sering menghabiskan waktunya untuk membaca dan berdiskusi namun minim dalam aksi kongkrit untuk memperjuangkan permasalahan permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Walau jumlahnya tak banyak namun mahasiswa mahasiswa ini ketika didalam kelas atau ketika berbicara patut diperhitungkan namun dalam tataran praksis nihil, merakalah mahasiswa retoris atau mahasiswa yang banyak dalam beretorika.
Adapula yang memang serius dan berakhrir status pacaranya dikarenkan akad nikah. Mahasiswa mahasiswa ini seringkali, membicarakan terkait dengan masalah pasangannya baik dari yang lagi sayang sayangnya, marah, sedih, rindu sampai yang sudah kebelet pengen nikah, padahal statusnya masih mahasiswa dan belum lulus kuliah. Di UIN Malang, mahasiswa mahasiswa ini bahkan punya satu tempat yang disakralkan yakni taman seribu janji. Selain golongan golongan mahasiswa yang aneh aneh atau yang telah mengalami kecelakaan dalam berfikir tersebut.
Terdapat satu golongan lagi yang secara omongan sangatlah memukau, bahkan terkesan dialah seorang martir perbuhan. Secera teoritik kemampuannya bisa dikatakan mencapai klasifikasi menengah. Mahasiswa mahasiswa ini sering menghabiskan waktunya untuk membaca dan berdiskusi namun minim dalam aksi kongkrit untuk memperjuangkan permasalahan permasalahan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Walau jumlahnya tak banyak namun mahasiswa mahasiswa ini ketika didalam kelas atau ketika berbicara patut diperhitungkan namun dalam tataran praksis nihil, merakalah mahasiswa retoris atau mahasiswa yang banyak dalam beretorika.
Dalam
hal ini, sejatinya telah jelas disebutkan di ospek (pbak), bahkan telah diulas
dalam berbagai buku, dan karya ilmiah lainnya terkait dengan peran dan fungsi
mahasiswa yakni sebagai agen of change,
social control, dan iron stock. Bahkan
juga terkait dengan status dari seroang mahasiwa yakni moral force namun fenomena yang terjadi di UIN Malang membuat diskursus terkait dengan hal hal
tersebut relefan untuk di bahas. Sebagai mana yang telah saya sebutkan diatas
terkait dengan klasifikasi karakter karakter mahasiswa UIN Malang dari yang hedonis, pragmatis, biologis, apatis dan
retoris menurut saya mereka telah
mengalami kecelakaan dalam berfikir sehingga mengakibatkan misorietasi peran dan fungsi mahasiswa.
Idelanya
seorang agen of change adalah seorang
pembaharu, berpemikiran yang progresif dan transformatif serta memiliki sprit
kemanusiaan yang tinggi seoalah olah hanya menjadi rangkaian kata tak bermakana
di hadapan dan didalam pikiran mahasiswa UIN Malang. Begitupun dengan perannya
sebagai social control tak terasa apa
apa dalam setiap tindakan mahasiswa UIN Malang yang tergolong kedalam kelompok
kelompok diatas. Mereka sangat asing dengan realitas, asing dengan masalah
masalah sosial yang terjadi diluar kampsu yakni yang menyangkut hajat hidup
orang banyak.
Anehnya, mereka akrab bahkan mesrah dengan masalah masalah individual terkhusus masalah Hormonal, dan anehnya dalam pidato rektor UIN Malang Prof Haris, dalam acara wisuda tahun 2018 seoalah olah beliau mengaminkan berbagai persoalan tersebut bahkan terkesan beliau mendukung secara full, dalam penyampaian beliau UIN Malang terkesan menjadi Biro Jodoh yang mempertemukan anak manusia yang kebelet nikah. Berbagai permasalahan tersebut membuat status mahasiswa menjadi satu kata yang tak begitu bermakna hanya satu kata yang menyimbolkan bahwa mereka adalah orang orang yang sedang mondar mandir di Universitas.
Anehnya, mereka akrab bahkan mesrah dengan masalah masalah individual terkhusus masalah Hormonal, dan anehnya dalam pidato rektor UIN Malang Prof Haris, dalam acara wisuda tahun 2018 seoalah olah beliau mengaminkan berbagai persoalan tersebut bahkan terkesan beliau mendukung secara full, dalam penyampaian beliau UIN Malang terkesan menjadi Biro Jodoh yang mempertemukan anak manusia yang kebelet nikah. Berbagai permasalahan tersebut membuat status mahasiswa menjadi satu kata yang tak begitu bermakna hanya satu kata yang menyimbolkan bahwa mereka adalah orang orang yang sedang mondar mandir di Universitas.
[1] Istilah
istilah ini saya adaptasi dari istilah istilah yang digunakan oleh Taufik Z.
Karim dalam buku otokritik terhadap HMI.
Komentar
Posting Komentar